Hikayat Penguasa TNBBS (Taman Nasional Bos-Bos Swasta)

Opini  JUM'AT, 01 SEPTEMBER 2017 , 22:31:00 WIB | OLEH:

Hikayat Penguasa TNBBS (Taman Nasional Bos-Bos Swasta)

Hermansyah

OPINI Duel Dua Naga di Pilgub Lampung menarik perhatian Bang Tanzie, rakyat biasa yang kadang "usil' lewat laman sosialnya. Yang luar biasanya, Bang Chin Lunk, panggilannya di dunia maya, sangat perhatian pada dinamika politik di Indonesia.

Meski sudah ber-KTP-el DKI Jakarta, dinamika politik di Lampung, daerah asalnya, juga tak ada yang lolos dari kaca mata plusnya. Engkoh Haji Chin Lunk bilang, "Gak cocok geh sebutannya naga." Di Lampung mah, katanya, sudah terkenal dengan gajah.

Sebagai pendapat, saya sangat menghargai kritikan guyonnya. Saya respect dengan perhatiannya pada tulisan di opini RMOLLampung.com. Saya juga tak mau berdebat bahwa naga itu cuma penggambaran keperkasaan.

Sebagai bentuk penghargaan atas perhatiannya,  saya coba "mendongeng" tentang "Hikayat Penguasa TNBBS". Di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), sejak ratusan, mungkin ribuan tahun lalu, sudah ada penguasanya.

Sampai-sampai,  bangsa kita, manusia, homo sapiens, menjuluki penguasa TNBBS tersebut dengan sebutan si raja hutan (Panthera tigris). Hewan pemakan daging yang paling ditakuti seantero rimba raya TNBBS.

Ada lagi sebetulnya penguasa TNBBS, yaitu gajah (Elephantidae). Mamalia ini disegani semua hewan karena tubuhnya yang paling besar di TNBBS, dewasa sekitar 5400 Kg, Jika lewat suatu wilayah, raja hutan pun memilih memberikan jalan.

Sejak dulu, si raja hutan dan gajah, sudah berkomitmen "sesama bus kota, jangan saling mendahului". Mereka berkuasa di wilayahnya masing-masing. Kedua penguasa rimba ini berbagi lahan kekuasaan, masing-masing punya area kekuasaan beradius ribuan hektare.

Jika pun tak sengaja bertemu, si raja hutan pura-pura tak melihat rombongan gajah, paling melirik saja. Demikian pula gajah, paling manggut-manggut saja. " Kami beda makanan, coy," kata gajah sambil mengoyang-goyangkan pinggulnya.

Kedua mahluk yang paling disegani ini beda karakter di rimba raya. Si raja hutan cendrung soliter. Jika birahi saja, dia baru mencari mitra. Selain itu, si raja hutan ini, bisa marah besar jika kawasannya dimasuki sesama raja hutan lain.

Berbeda dengan gajah, hidupnya senantiasa berkelompok, guyup. Gajah yang paling gagah selalu siap dengan gadingnya yang besar dan tajam untuk memimpin dan melindungi gajah-gajah yang lebih kecil.

Hal yang sama sepertinya terjadi pula di TNBBS lain, Taman Nasional Bos-Bos Swasta. Agaknya, si raja hutan yang datang dari seberang mulai "menggoda" gajah-gajah Lampung sejak tahun 2014.

Gajah lokal yang penyabar lama-lama sepertinya terusik. Tentu saja, sang pemimpin mereka dulu yang maju. Namun, di belakang gajah yang tampak sendirian itu, tunggal, banyak gajah-gajah lokal lainnya.

Mereka siap mengepung sang raja hutan mulai dari Kabupaten Mesuji, Pesisir Barat, hingga Panjang, Telukbetung, Kota Bandarlampung. Lengkingannya bisa menggelegar di rimba Taman Nasional Bos-Bos Swasta.

Sebagai gajah yang sejak nenek-kakeknya lahir di Lampung, bisa jadi  piil pasenggiri juga. Si raja hutan, singa dari seberang, Singapura dan rombongan gajah sama-sama sedang konsolidasi untuk memperkuat diri dengan timnya masing-masing.

Nah, hikayat TNBBS sampai di sini dulu. Berhubung masih Lebaran Haji, cooling down beberapa hari dulu. Selamat Hari Raya Idul Adha, maaf lahir dan batin. Kita simak langkah dan strategi mereka berikutnya. Tabikpun. [REDPEL RMOLLAMPUNG.COM]



Komentar Pembaca
Peran Indonesia Ke Rohingya Masih Minim

Peran Indonesia Ke Rohingya Masih Minim

SELASA, 05 SEPTEMBER 2017 , 13:00:00

KPK Bisa Dibubarkan

KPK Bisa Dibubarkan

SENIN, 10 JULI 2017 , 21:00:00

Rekor! TNI AD 10 Kali Juara di ASAAM

Rekor! TNI AD 10 Kali Juara di ASAAM

SABTU, 08 JULI 2017 , 17:00:00

KAMIS, 31 AGUSTUS 2017 , 19:56:00