ISLAM DAN KOMUNISME

Tan Malaka sangat menyadari potensi Pan Islamisme terutama untuk mencapai kemerdekaan bangsa Indonesia

Opini  SABTU, 02 SEPTEMBER 2017 , 08:31:00 WIB

ISLAM DAN KOMUNISME
Adalah konyol bicara tentang perdebatan ideologi dalam dunia kita yang serba terbuka saat ini. Siapa yang percaya bahwa pertentangan ideologi ini bahkan tak pernah mencapai titik temunya. Bahkan apa yang terjadi sampai hari ini adalah buah dari pertentangan yang terus mengeras itu.

Di lansir dari Republica.co.id, saat menjenguk KH Hasyim Muzadi di Rumah Sakit Lavalette Kota Malang, pada Rabu (11/1/2017) lalu. Sejumlah petinggi militer diantaranya Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI I Made Sukadana,di kamar Hasyim Muzadi sekitar sepuluh menit. Selama dibesuk, Hasyim Muzadi juga mewanti-wanti kepadanya mengenai bahaya komunis.

"Tidak bercerita masalah sakitnya, namun meski kini sedang sakit beliau tetap memikirkan bangsa karena beliau sosok yang sangat nasionalis dan prihatin dengan kondisi bangsa saat ini," ujar Sukadana. Hasyim berharap agar TNI bersama dengan para kyai dan rakyat menjaga persatuan bangsa Indonesia.

Sebelum Pangdam, Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin, Kapolres Malang Kota AKBP Decky Hendarsono, Kepala Brimob Ampeldento Detasemen B AKBP Sunadi, serta Wakil Wali Kota Malang Sutiaji telah terlebih dahulu menjenguk.
Ragam peristiwa hari-hari terakhir membuat kita perlu mencerna kembali gagasan besar kebangsaan Indonesia. Apa yang diinginkan para pendahulu kita pendiri republik ini.  Di balik itu kita melihat menguatnya kembali spirit ke agamaan umat muslim melalui berbagai aksi - aksi besar yang terorganisir secara damai dan secara umum mampu mengukuhkan eksistensi umat muslim di pentas dunia. Peristiwa lainnya tentunya silih berganti hadir moment demi moment dan ancaman nyata yang begitu jelas didepan mata kita saat ini adalah komunisme.
Penulis tertarik mengangkat masalah ini didasari pada kekhawatiran tatanan kebangsaan kita yang dibalut nilai Pancasila akan runtuh jika kita terlambat menyadari ancaman komunisme ini. Pernahkah terpikir oleh kita komunisme menjadi ideologi yang legal dan menguasai peta perpolitikan kita?. Membayangkannya pun rasanya ngeri sangat, seperti membayangkan sebuah holocaust bagi umat beragama atau pemaksaan untuk membunuh keinginan spiritual warga negara untuk mengabdikan diri pada sang Khaliq. Setidaknya kita mulai melihat indikasi kearah sana. Banyaknya warga negara yang mulai secara berani menggunakan simbol-simbol komunis di ruang publik, upaya agitasi dan adu domba terhadap umat beragama yang marak belakangan ini, mengarah pada upaya kebangkitan sebuah ideologi yang sudah lama pupus dari negeri ini.
Dalam salah satu perbincangan, seorang kawan, yang mantan aktivis PRD ketika saya membincang hal ini, menganggap saya terserang paranoid semata. Tidak ada organisasinya, itu bualan kosong”, kira- kira begitulah rekan saya itu bilang. Dia lupa jika komunis terlatih dalam infiltrasi. Pelajari kembali sejarah munculnya komunis di negeri ini di mulai dengan infiltrasi ke dalam tubuh syarikat islam sebelum menjelma jadi Partai Komunis Indonesia. Dan ini juga menjadi catatan khusus bagi kita, bagaimana Islam sejak dulu sudah menjadi kekuatan massa yang sangat diperhitungkan.
Pada awal orde baru, dengan maksud mengendalikan politik secara total, Soeharto pada waktu itu melakukan fusi partai-partai islam dan nasionalis disisi yang lain dan pada saat bersamaan mendirikan Golongan Karya sebagai perahu kekuasaan orde baru. Sepanjang orde baru  dominasi ditubuh parlemen di kuasai oleh Golongan Karya (Golkar) yang setelah reformasi 1998 berganti nama menjadi Partai Golkar. Pasca reformasi, bandul politik berubah, PDI P menjadi kekuatan baru dalam kontestasi partai-partai. Partai yang kini berkuasa dan menguasai pemerintahan ini,  saat ini,ada juga yang menilai, menjadi tempat persemaian bibit komunisme, setidaknya ini terlihat dari eksistensi beberapa anak tokoh PKI di pusat partai ini yang secara tegas mengidentikkan diri mereka dengan gagasan PKI itu sendiri. Lebih nyata kita melihat bagaimana intensnya PDI P bekerjasama dengan Partai Komunis Cina sehingga rasanya bukan hal yang berlebihan jika kita nilai kebangkitan komunisme yang sebenarnya tinggal soal waktu.
Apakah kebangkitan islam merupakan reaksi dari perkembangan komunisme hari terakhir ?..Saya rasa tidak hanya itu. Spirit pan islamisme ini lahir dari berbagai penindasan dalam dunia islam diberbagai belahan dunia saat ini. Islam disudutkan dimana diberbagai negara dimana umat muslim sebagai minoritas , kondisinya sangat memprihatinkan seperti yang saat ini terjadi di Rohingya dan Myanmar. Namun bicara dalam konteks NKRI saat ini, rivalitas kedua ideologi bisa jadi menjadi salah satu faktor penting penyebab massa islam bangkit. Dan ini sebenarnya adalah isyarat tersendiri akan munculnya gejolak sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara beberapa tahun ke depan, gejala sosial yang perlu diantisipasi.
Membaca Tanda- Tanda Zaman
Politik sepanjang yang sering terjadi di negeri ini adalah pengulangan-pengulangan sejarah semata, tentunya dengan versi yang lebih aktual. Beberapa kali gagal merebut kekuasaan komunis Indonesia terberangus pada masa orde baru. Jangankan tumbuh dalam tubuh sebuah organisasi, mendiskusikannya sendiri adalah hal yang tabu. Bagi sebagian kaum muda, sipatnya yang sangat rahasia dan seolah ditabukan ini malah memancing rasa ingin tahu. Apalagi terbatasnya literatur tentang hal ini, menjadikan komunisme menjadi semacam upaya gagah-gagahan semata. Pada dasarnya mereka kaum muda pada masa itu membenci negara totaliter dan mencari perbandingan wujud lain bagi dominasi negara. Setelah reformasi ruang ini sedikit terbuka, literatur komunis bisa kita dapat diberbagai tempat dan setelahnya rasa ingin tahu yang menjelma dahaga itu terluapkan. Kita bisa mengenali sisi-sisi putih dan hitam dari banyak tokoh dengan cap komunis di jidatnya itu. Tokoh seperti Tan Malaka mendapatkan kehormatan yang lebih dan terasa bukan sosok yang menakutkan ketika kita tahu, bahwa sebagai tokoh komunis internasional di awal abad ke 20, dia yang secara tegas mengambil sikap bahwa komunisme harus sejalan dengan pan islamisme, dalam konteks memerdekakan negeri dari penjajahan Belanda. Jelaslah bahwa di masa itu Tan Malaka sudah melihat potensi islam sebagai kekuatan besar yang tak mungkin mau di daulat jadi penonton semata. Namun gagasan Tan itu terasa utopis bagi kebanyakan kalangan komunis yang selalu dan senantiasa melihat islam sebagai musuh. Teranglah islam dan komunisme adalah seperti air dan api, bagaimanapun komunisme menolak agama. Banyak contoh bagaimana negara-negara beragama yang kemudian dikuasai komunisme di paksa melepaskan segala atribut keagamaannya. Masjid-masjid dan gereja pada masanya ketika komunisme berkuasa akan menjelma mungkin menjadi gedung olahraga, pabrik, atau untuk kegiatan komersial lainnya. Lihatlah bagaimana setelah Uni Soviet runtuh bagaimana masyarakat setempat kembali memunguti sisa-sisa masa lalu kehidupan agamis mereka. Dalam dunia komunisme tak ada tempat bagi agama, bagi mereka agama semata candu. Itulah kenapa mengundang komunisme kembali hadir di tatanan kebangsaan Indonesia sama halnya membiarkan potensi konflik menggurita dan bersiaplah menghadapi badai konflik. Indonesia sebagai negara dengan umat muslim terbesar sudah sewajarnya menolak kehadiran komunisme di Indonesia.(Edwar Patih)


Komentar Pembaca
Peran Indonesia Ke Rohingya Masih Minim

Peran Indonesia Ke Rohingya Masih Minim

SELASA, 05 SEPTEMBER 2017 , 13:00:00

KPK Bisa Dibubarkan

KPK Bisa Dibubarkan

SENIN, 10 JULI 2017 , 21:00:00

Rekor! TNI AD 10 Kali Juara di ASAAM

Rekor! TNI AD 10 Kali Juara di ASAAM

SABTU, 08 JULI 2017 , 17:00:00

KAMIS, 31 AGUSTUS 2017 , 19:56:00