Indonesia, Lampung, is The Digital Energy of Asia. Energy bro, Energy!

Oleh Davit Kurniawan (*)

Opini  KAMIS, 21 SEPTEMBER 2017 , 13:44:00 WIB

Indonesia, Lampung, is The Digital Energy of Asia. Energy bro, Energy!
RMOL. Bisnis dan teknologi dua hal yg berbeda. Alibaba, Amazon, dan lainnya menggabungkan disruption berbagai hal. Ketika bicara funding, fintech dan lainnya, kita kalah cepat saja, kebanyakan mikir dan retorika sehingga peluangnya diambil oleh bangsa lain.

Bukalapak itu asli indonesia, asli temen gue, Si Ahmad Zaky dengan masa depan suram yang cari funding sana-sini gak ada yang kasih. Sekarang? Funding-nya series A bro dan lagi-lagi bukan orang berduit dari Indonesia.

Tokopedia itu Si William,  asli Mangga Dua, Jakarta. Dia jual ini itu di website. Awalnya tidak ada yang percaya. Dia cari funding sana-sini, tetap tak ada yang mau memodalinya. Sekarang? Jangan ditanya berapa uang William.

So, ketika bisnis, teknologi jauh dari dunia cocoklogi, dia akan maju pesat. Ketika dicocoklogikan dengan isu politik, pilgub, pilkada, sara hingga jadi Saracen, apa yang didapatkan?

Itulah kecenderungan hobi sebagian besar masyarakat digital Indonesia, suka gosipnya ketimbang kemajuannya. lebih suka Indomie rasa kari ayam ketimbang makan ayam beneran.

Ada beberapa negara Asia yang jadi pasar dari anak-anak Indonesia. Ketika Indonesia tidak pakai karyanya, startup kita justru merambah negara lain, usernya Tokopedia dan Bukalapak.

Pasar mereka bukan cuma orang Pringsewu, Kalianda, Kotagung, Krui, Blambangan Umpu, Liwa, Menggala, Mesuki, Gunungsugih, Sukadana, Pesawaran, hingga Tuba Barat, tapi juga luar Indonedia.

Startup karya anak indonesia bukan cuma Tokopedia atau Bukalapak saja, ada ratusan startup anak indonesia yg user-nya bukan Indonesia.

Jangan merasa cuma kita user-nya. Seperti Igrow milik Si Andreas Sanjaya. User-nya para petani di Asia, bukan cuma Indonesia.

Era digital mengubah pola, cara dan lainnya tanpa harus mengubah budaya apapun. Orang sakit budayanya ya harus dijenguk, dibantu. Namun, dengan adanya online, kita bisa bantu galang dana sakit secara online spt lewat www.kitabisa.com contoh kecilnya yang dapat menghilangkan jarak dan waktu dalam penggalangan dana kemanusiaan.

Budaya jualan juga harus ada barang, ada penjual, ada pembeli, karena ada online jarak dan waktu berjualan bisa dimudahkan.

Dulu, kita mengirim pesan ke orang yang beda tempat, medianya :

1. Pakai kepulan asap sebagai tanda pesan komunikasi keberadaan seseorang.
2. Pakai burung merpati atau elang.
3. Pakai kertas ditulis pesan dan pakai kurir
4. Pakai mesin telemorse
5. Pakai mesin ketik, ketik pesan dan kirim pakai kurir
6. Pakai mesinpager
7. Pakai telepon kabel
8. Pakai komputer email
9. Pakai HP
10. Pakai smartphone
11. Setelah semua media dipakai, terakhir, pakai doa semoga sampai pesannya.

Semua cuma media, pesan tetap pesan, tidak berubah. Media mengirimnya saja yang berkembang sedemikian rupa. Yang tak tergantikan sampai hari ini ngirim paku ke dalam perut (santet). Tak ada teknologinya. Jadi kita tetap yang juaranya meskipun ana sing ngirim.

Kita bisa kirim berbagai kabar yang baik dan benar-benar baik bahwa tanah kelahiran ini enow lambang sai agung, lapah gham jamo jamo. Ada pantai yang indah, pegunungan yang biru, adat istiadat, tutur, sastra dan aksara bukti tingginya peradaban masyarakat Lampung. I love Lampung, tanah kelahiranku.


Indonesia is the digital energy of Asia. Energy bro, energy, ini asli bukan slogan.


(*)

1. Direktur Utama

PT. Darmajaya Digital Solusi

2. Google Developer

3. Inisiator Krakatau Digital Movement

4. Penggiat 1000 Startup Digital Indonesia

5. Peneliti LP4M IIB Darmajaya

6. Author & IT Research ilmukomputer.com

Komentar Pembaca
Peran Indonesia Ke Rohingya Masih Minim

Peran Indonesia Ke Rohingya Masih Minim

SELASA, 05 SEPTEMBER 2017 , 13:00:00

KPK Bisa Dibubarkan

KPK Bisa Dibubarkan

SENIN, 10 JULI 2017 , 21:00:00

Rekor! TNI AD 10 Kali Juara di ASAAM

Rekor! TNI AD 10 Kali Juara di ASAAM

SABTU, 08 JULI 2017 , 17:00:00

KAMIS, 31 AGUSTUS 2017 , 19:56:00