Radikalisme Bertemu Bom Ikan

Oleh Hermansyah*

Opini  RABU, 27 SEPTEMBER 2017 , 06:39:00 WIB

Radikalisme Bertemu Bom Ikan
Irjen Suroso Hadi Siswoyo baru sehari menjabat kapolda Lampung sudah "disambut" gegernya bom yang ternyata tas ransel tunawisma berisi pakaian yang ditinggalkan di Masjid Jami Al-Yaqin, Jl. Raden Intan, Bandarlampung (6/9/2017).

Dua pekan kemudian, Minggu (24/9/2017), masyarakat kembali dikejutkan oleh meledaknya sesuatu rumah dekat Mapolsek Tanjungkarang Barat. Jika pun yang meledak itu benar tabung gas, polisi menemukan bahan-bahan yang bisa untuk merakit bom dari rumah tersebut.

Bahan-bahan itu berdasarkan data yang dilansir banyak media adalah arang, serbuk warna putih, anfo, sulfur, urea, putasium, sejenis TNT, detonator, abu gosok, cairan kimia putih, minuman suplemen, selang, bubuk warna coklat, handphone, timbangan digital, 54 casing warna coklat terbuat dari kertas bulat panjang 25 cm dan 69 buah ukuran kurang lebih 15 cm.

Ada yang lebih mengagetkan saya dan teman-teman semasa kuliah, yakni tersangkanya, Mustafa Zailani. Kami mengenalnya adik satu tingkat di Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Dia tinggal di permukiman padat penduduk Jl. Ikan Sepat, Gudangagen, Pesawahan, Telukbetung Selatan.

Meski ada pupuk urea dari tempat kejadian, kecil kemungkinan untuk memupuk tanaman seperti yang dipelajari Mustafa selama empat tahun di kampus. Apa lagi selain urea banyak bahan lain yang bisa menjadi bahan peledak. Banyak kemudian orang berpikir itu bahan-bahan pembuat bom.

Apalagi, kedua istrinya, NM dan AS, sama-sama pakai cadar. Ditambah tampilan Mustafa yang berjanggut dan selalu pakai gamis beberapa tahun terakhir ini. Aktivitasnya juga, banyak di masjid. Lengkap sudah banyak orang menduga-duga pria berusia 52 tahun itu terlibat jaringan teroris.

Pada situs www.khilafatulmuslimin.com, Mustafa sudah 11 tahun memimpin Khilafatul Muslimin untuk wilayah Lampung. Pria berdarah Pulau Buton, Sulawesi Tenggara itu juga ada hubungannya dengan Pondok Pesantren Ukhuwah Islamiyyah, Batuputu, Bandar Lampung.

Datasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri ikut menyelidiki kasus ini. Irjen Suroso Hadi Siswoyo juga mengatakan sedang mendalami kemungkinan keterkaitannya dengan teroris. Bapak 11 anak tersebut sudah bersetatus tersangka. Kedua rumahnya masih dipasang police line.

Yang pasti, Khilafatul Muslimin bukan organisasi tertutup. Ketua RT 42, Lingkungan III, Kelurahan Pesawahan, Telukbetung Selatan, Rudin Waluyo (50), juga mengatakan Mustafa dalam tausiah atau berdakwah tidak ada sama sekali berbau ekstremis atau terorisme. Hanya sedikit perbedaan pemahaman sunah saja dengan warga.

Di lingkungan Mustafa, sebagian berprofesi nelayan Teluk Lampung. Belasan tahun lalu, beberapa diantaranya sempat akrab dengan bom ikan. Ada yang mampu merakit bom ikan dari bahan-bahan yang bisa dibeli bebas di toko. Kemampuan tersebut diwariskan turun-temurun.

Seperti ampo yang berasal dari permurnian pupuk urea yang mengandung Nitrogen dan Potassium yang berasal dari penguraian pupuk NPK. Ada yang mampu melakukan permurnian pupuk tersebut sebagai bahan peledak.

Sejak pemerintah semakin ketat mengawasi pengeboman ikan, para nelayan sudah jarang terdengar ngebom ikan di Teluk Lampung. Apalagi kini, kawasan Teluk Lampung telah menjadi destinasi wisata. Aparat keamanan dan warga juga ikut menjaga perairan Teluk Lampung.

Entah benar atau tidak, konon, masih ada yang ngebom ikan tapi tidak di Teluk Lampung lagi. Mereka berlayar hingga perairan samudra Pesisir Barat Provinsi Lampung. Jika memang masih ada, tak tertutup kemungkinan bahan-bahan milik Mustafa untuk keperluan tersebut.

Tapi, jika memang ada indikasi bahan-bahan pembuat bom itu diperuntukkan sabotase kepentingan publik, radikalisme telah bertemu dengan kemampuan masyarakat merakit bom ikan. Senyawa keduanya tentu saja sangat berbahaya bagi rasa aman masyarakat dan stabilitas bangsa ini.

Meski tidak bersenyawa, bom ikan tetap dilarang karena merusak lingkungan hidup, ekosistem dan biota laut. Palang hukumnya sudah ada, yakni Pasal 85 UU No. 45 Tahun 2009 tentang Perubahan UU No 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Ancamannya lima tahun penjara dan denda maksimal Rp2 miliar.

Kita tunggu hasil pemeriksaan kepolisian terhadap tersangka dan para saksi untuk menjawab pertanyaan apakah radikalisme telah bersenyawa dengan kemampuan merakit bom atau tidak di kawasan pesisir Telukbetung, Bandarlampung?

Tabikpun.

(*) Pimred Rmollampung.com, pengurus PWI Lampung dan pengurus Serikat Media Siber Indonesia.


Komentar Pembaca
Peran Indonesia Ke Rohingya Masih Minim

Peran Indonesia Ke Rohingya Masih Minim

SELASA, 05 SEPTEMBER 2017 , 13:00:00

KPK Bisa Dibubarkan

KPK Bisa Dibubarkan

SENIN, 10 JULI 2017 , 21:00:00

Rekor! TNI AD 10 Kali Juara di ASAAM

Rekor! TNI AD 10 Kali Juara di ASAAM

SABTU, 08 JULI 2017 , 17:00:00

KAMIS, 31 AGUSTUS 2017 , 19:56:00