Hasil Investigasi

Watala Ungkap Alur dan Pola Pembalakan Liar Tahura Wan Abdurahman

Hukum  SELASA, 10 OKTOBER 2017 , 17:20:00 WIB

Watala Ungkap Alur dan Pola Pembalakan Liar Tahura Wan Abdurahman

Edy Karizal (tengah)

RMOL. Watala memperkirakan pembalakan liar (illegal loging) telah terjadi sejak lma tahun lalu di kawasan konservasi Tahura Wan Abdurahman, Register 19,  Gunung Betung, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung. LSM lingkungan hidup tersebut berhasil menginvestigasi tujuh poin alur dan pola  pembalakan liar setahun terakhir ini.

Kami, sejak setahun belakangan ini, telah menginvestigasi alur dan pola illegal logging yang terjadi kawasan tersebut, terutama di kawasan hutan dekat Desa Batu Lapis, Kecamatan Gedongtataan, dan Desa Margodadi, Kecamatan Waylima,” kata Ketua Watala Ir. Edy Karizal, Selasa (10/10/2017)

Menurut alumni Faperta Unila itu, banjir yang terjadi di lima kecamatan, yaitu Gedongtataan,Negerikaton, Waylima,Padang Cermin, Kedondong, pada tanggal 21-02-2017, salah satu dampak dari hulu hutannya telah hancur akibat penebangan liar tanaman Program Reboisasi Departemen Kehutanan Republik Indonesia Tahun 1985.

Hasil investigasi Watala, keluarga besar pencinta lingkungan hidup Lampung, ada tujuh poin alur dan pola illegal logging yang terjadi di kawasan tersebut. Dari hasil investigasi, pembalakan liar melibatkan aparat dan banyak pihak, bukan cuma penebang pohon,”  kata Edy Karizal yang berkantor di Jl. Teuku Umar No. 58, Kota Bandarlampung.

Pertama, ada indikasi keterlibatan oknum  aparatur pemerintahan desa, oknum anggota babinsa, dibantu preman lokal sehingga masyarakat takut untuk mengadu atau bersuara adanya illegal loging di wilayah mereka. Banyak yang terlibat dalam praktek pengrusakan hutan,” kata Edy Karizal.

Kedua, adanya dugaan pembiaran oleh oknum kepolisian Polsek Kedondong karena truk pengangkut log kayu minimal seminggu sekali melintasi jalan raya yang jaraknya hanya 50 meter dari kantor polsek.  Mustahil Polsek Kedondong tidak tau karena sudah berlangsung lama,” ujarnya.

Ketiga, pembalakan liar berlangsung minimal seminggu sekali setiap malam jumat kayu keluar dari hutan dibawa ke Kecamatan Natar, Tegineneng, Lampung Selatan, Kota Metro, bahkan hingga Lampung Tengah. Malam jumat, suasana agak lengang dibandingkan malam biasa, masyarakat pengajian atau kegiatan lainnya,” kata Edy Karizal.

Keempat, kayu hasil pembalakan liar awalnya diangkut menggunakan truk Fuso. Namun, saat ini, katanya, menggunakan mobil kecil seperti Colt Diesel dan sejenisnya agar tidak menarik perhatian masyarakat. Di titik tertentu sekitar Kedondong, mobil truk Fuso telah menunggu kendaraan kecil yang mengeluarkan kayu dari kawasan,” ujar Edy Karizal.

Kelima, para pekerja lapangan sebagian besar bukan warga setempat, hanya satu atau dua orang saja masyarakat sekitar dan berganti-ganti orang serta mobil yang digunakan juga berganti-ganti untuk mengelabui dan tidak menarik perhatian masyarakat.

Keenam, kayu yang diambil sebagian besar adalah kayu sonokeling hasil reboisasi pemerintah sekitar tahun 1980-an.

Ketujuh, alur pengangkutan dan modus operandi pembalakan liarnya adalah (A) kayu hasil penebangan diangkut menggunakan mobil kecil kemudian dipindah ke truk di daerah sekitar kebun karet milik PTPN Pesawaran; (B) truk pengangkut keluar melalui jalan di sekitar pasar lama Kedondong agar masyarakat menganggap kayu bukan hasil curian akan tetapi dari kebun masyarakat.

Selanjutnya, (C)truk kemudian melalui jalan raya Kedondong menuju Gedongtataan dimana kantor Polsek Kedondong hanya berjarak 50 meter dari jalan yang dilalui truk pengangkut;(D)truk lalu melintas melewati Pemda Pesawaran kemudian bila keadaan siang hari truk melalui jalan Desa Negeri Katon dan muncul di jalan depan Bandara Branti.

Lalu, (E)bila keadaan aman, truk akan melewati jalan raya Pesawaran kemudian melewati jalan depan Polres Pesawaran hingga Desa Negerisakti truk belok ke jalan ke arah Natar, Lampung Selatan. Di Natar, kayu hasil pembalakan liar diperdagangkan (ditampung) oleh sowmill di sekitar Natar, Tegineneng, bahkan ke arah Metro dan Bandarjaya Lampung Tengah. [rel/pakho]

Komentar Pembaca
Peran Indonesia Ke Rohingya Masih Minim

Peran Indonesia Ke Rohingya Masih Minim

SELASA, 05 SEPTEMBER 2017 , 13:00:00

KPK Bisa Dibubarkan

KPK Bisa Dibubarkan

SENIN, 10 JULI 2017 , 21:00:00

Rekor! TNI AD 10 Kali Juara di ASAAM

Rekor! TNI AD 10 Kali Juara di ASAAM

SABTU, 08 JULI 2017 , 17:00:00

KAMIS, 31 AGUSTUS 2017 , 19:56:00