Cikal Minta Pemprov Hentikan Sirkus Lumba-Lumba di Lampung Fair

Pariwisata  JUM'AT, 15 DESEMBER 2017 , 08:45:00 WIB

Cikal Minta Pemprov Hentikan Sirkus Lumba-Lumba di Lampung Fair
RMOL. Penggiat pariwisata Teluk Lampung, Yayasan Cikal, meminta Pemprov Lampung menghentikan pertunjukan sirkus ikan lumba-lumba selama digelarnya Lampung Fair di PKOR Wayhalim, Kota Bandarlampung, dua pekan (15-29/12/2017).

Fadliyansah Cholid, salah seorang penggiat Yayasan Cikal, beralasan aktraksi tersebut bertolak belakang dengan upaya Pemprov Lampung yang "menjual" lumba-lumba liar atau alam Teluk Lampung sebagai objek wisata unggulan Lampung.

Selain itu, senada dengan banyak penggiat lingkungan hidup lainnya, sirkus lumba-lumba menyiksa hewan itu sendiri. "Satwa ini dibuat lapar agar mudah menurut perintah," ujar Fadliyansah Cholid.

Lumba-lumba tersebut, kata penggiat Komunitas Senyum (Komnyun) itu juga diangkut dengan menggunakan truk yang sempit, gelap, dan pengap selama pindah dari satu kota ke kota lainnya. Fadliyansah Cholid juga menduga proses penangkapan lumba-lumba tersebut ilegal dengan menjebaknya di perairan Karimun Jawa, perairan Pulau Jawa bagian utara.

Ketua Komunitas Indonesian Friends of The Animals (Ifota) Marison Guciano pernah meminta Presiden Joko Widodo untuk turun tangan langsung melarang pementasan sirkus lumba-lumba keliling yang marak di berbagai daerah. "Kami menagih komitmen Presiden Jokowi terhadap perlindungan satwa di Indonesia sesuai visi dan misinya dulu sebagai capres," tutur Marison.

Menurut Marison, pada pertunjukkan ketangkasan lumba-lumba terdapat penindasan dan pemaksaan selama proses pelatihan. Hal tersebut jelas bertentangan dengan upaya konservasi satwa yang ideal. "Upaya melegalkan pertunjukan pentas lumba-lumba sama halnya membiarkan satwa yang dilindungi disiksa dan dieksploitasi untuk kepentingan bisnis semata," katanya.

Padahal, jelasnya, lumba lumba merupakan satwa yang dilindungi berdasarkan PP No 7 Tahum 1999. Pada 2013 lalu, Kementerian Kehutanan sebenarnya telah mengeluarkan larangan sirkus keliling lumba-lumba. Namun, hingga kini sirkus keliling masih berlangsung, salah satunya di daerah Meruya, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat.

Disebutkan Marison, dalam atraksi, lumba lumba sengaja dibuat lapar. "Pelatih akan memberi makan lalu memerintahkan lumba lumba untuk berakrobat," jelas Marisol seperti dikutip dari rilis tertulisnya, Kamis (23/7).

Lumba-lumba, tambahnya, juga diangkut dalam truk yang sempit, gelap, dan pengap. "Penggunaan klorin dalam kolam lumba lumba juga dinilai sangat berbahaya dan bisa membuat mereka buta. Bunyi yang mereka dengar dalam truk, pesawat, atau musik keras pertunjukkan membuat kerusakan sonar," sambungnya.

Marison meminta agar izin pementasan lumba lumba yang diberikan kepada beberapa pihak segera dicabut dan lumba lumba tersebut dilepaskan ke habitatnya di laut lepas. [pakho]

Komentar Pembaca
Peran Indonesia Ke Rohingya Masih Minim

Peran Indonesia Ke Rohingya Masih Minim

SELASA, 05 SEPTEMBER 2017 , 13:00:00

KPK Bisa Dibubarkan

KPK Bisa Dibubarkan

SENIN, 10 JULI 2017 , 21:00:00

Rekor! TNI AD 10 Kali Juara di ASAAM

Rekor! TNI AD 10 Kali Juara di ASAAM

SABTU, 08 JULI 2017 , 17:00:00

KAMIS, 31 AGUSTUS 2017 , 19:56:00