Resolusi Anak Muda dalam Digitalisasi Tahun Politik

Oleh Dedy "Dero" Rohman, S.E.*

Opini  MINGGU, 31 DESEMBER 2017 , 09:58:00 WIB

Resolusi Anak Muda dalam Digitalisasi Tahun Politik
PERJALANAN tahun 2017 tinggal sisakan jam untuk berganti memasuki tahun 2018.  Momentum ini, bagi sebagian besar orang jadi saat yang pas untuk merefleksi atau mengevaluasi diri, sekaligus mencatat resolusi untuk dirinya pada tahun berikutnya.

Resolusi atas hasil yang terjadi tentu jadikan rujukan dalam menentukannya langkah-langkah berikutnya. Namun, tantangan ke depan, dalam tahun 2018, ada peristiwa yang melibatkan diri kita dan banyak orang. Tahun 2018, bagi rakyat Lampung dan provinsi lainnya, jadi "tahun politik".

Pada pertengahan tahun 2018, banyak daerah, termasuk Provinsi Lampung, akan suksesi pemimpin daerahnya.Tentu saja, semua pihak berkepentingan terhadap pemilihan kepala daerahnya. Sebagai nahkoda pemerintahan tertinggi daerah, gubernur memiliki kebijakan arah pembangunan masyarakatnya.

Mungkin, para pelaku usaha ada yang "harap-harap cemas", ada yang optimistis, mungkin juga ada yang apatis terhadap suksesi di "tahun politik".

Sepertinya, salah satu elemen masyarakat yang apatis melihat giat-giat politik bangsa adalah anak muda/kaum muda. Kecenderungan perubahan pola interaksi kaum muda secara digital semakin membuat kaum muda asyik kemasyuk dengan dunia mereka.

Meski secara umum perubahan digital tidak hanya menyasar kaum muda tapi bonus demografi mengisyaratkan kaum muda dominan di level ini.  Dan, akan menjadi sebuah persoalan bersama ketika kaum muda kita apatis, cuek dan asyik saja dengan dunianya.

Mereka seperti tercerabut dari soal-soal politik kekinian.

Maka, tahun politik 2018, menjadi entry bagi kaum muda untuk terlibat politik dengan cara mereka (jangan kaku) dalam menjawab persoalan persoalan rakyat sekitarnya.

Tentu, bangsa ini, butuh tunas-tunas  pemimpin yang segar dalam memajukan rakyatnya.  Lalu, dimana mereka bisa dapatkan chemistry-nya dalam berpolitik?

Daerah perkotaan sudah pasti jadi sasaran mereka karena kedekatan komunitas sesama mereka dari hari ke hari. Namun kaum muda harus di "challenge" ke lapangan yang lebih luas bernama desa.

Kaum muda didorong ke desa dan biarkan mereka bergumul dengan style mereka tanpa menegasikan nilai-nilai kearifan lokal yang ada di suatu desa.

Akan indah jika semua dipadu padankan offline-online dalam etalase digital memberdayakan ekonomi, sosial, wisata, inovasi dan soal lainnya.

Maka tahun politik 2018 harus di isi oleh kaum muda berbondong bondong ke desa, untuk merubah desa, mandiri, dan bermartabat. Selamat memasuki tahun 2018. Tabikpun.

* Capacity Building and Goverman Relation Yayasan Desapolitan Indonesia (Desindo)


Komentar Pembaca
Peran Indonesia Ke Rohingya Masih Minim

Peran Indonesia Ke Rohingya Masih Minim

SELASA, 05 SEPTEMBER 2017 , 13:00:00

KPK Bisa Dibubarkan

KPK Bisa Dibubarkan

SENIN, 10 JULI 2017 , 21:00:00

Rekor! TNI AD 10 Kali Juara di ASAAM

Rekor! TNI AD 10 Kali Juara di ASAAM

SABTU, 08 JULI 2017 , 17:00:00

KAMIS, 31 AGUSTUS 2017 , 19:56:00