Darah Musik Rock Menyelusup Hingga ke Jiwa Hary Kohar

Budaya  SELASA, 09 JANUARI 2018 , 05:24:00 WIB

Darah Musik Rock Menyelusup Hingga ke Jiwa Hary Kohar

Hary Kohar

MUSIK rock melanda Indonesia tahun '70-80-an. Hary Kohar yang masih remaja kala itu seperti menemukan media untuk mengekspresikan jiwa seninya lewat aliran musik ini. Musik rock akhirnya menjadi darah pengusaha yang tampak masih trendy hingga jelang usia '60 tahun.

Saat ini, sesekali, di sela kepenatan dan ketegangan rutinitas pekerjaan, Hary Kohar melepaskannya lewat bernyanyi rock dengan nada-nada tinggi dan gaya panggung khas vocalis musik cadas. Tongkat mick sesekali diangkat dan dilemparkan ke atas.

Musik rock telah menjadi darahnya. Ketika sekolah di Jogjakarta pada tahun tahun 1978 hingga 1980, Hary Kohar bergabung dengan grup musik Band Rock Lysby yang personelnya dari berbagai daerah. Mereka bermusik dari panggung ke pangung.

Pulang ke Lampung, Hary Kohar bergabung di Band BPD Lampung, Alpin Band, Band Kampus Unila, dan Band PDK. Dia melalang buana bermusik rock dari satu tempat ke tempat lain dan grup msik rock satu ke grup musik rock lainnya hingga tahun 1989.

Setelah menekuni bisnis pupuk selama empat tahun. Pada tahun 1993, musik rock kembali memanggilnya. Di Jakarta, sambil menjadi kontraktor di Jakarta, dia membina Band BLakodia yang kemudian berubah nama jadi Hitro.

Tahun 1998, dia memutuskan kembali istirahat dari hinggar-binggar musik rock dan fokus pada usahanya.

Tetap saja, semakin menjauh, musik rock selalu memanggil-manggilnya. Pada tahun 2003, Hary Kohar membeli peralatan band berkekuatan 60 ribu watt buatan Amerika. Lima tahun kemudian, 2008, dia menambah peralatan musiknya hingga 40 speaker berkekuatan  140 ribu watt.

Hary Kohar terus meningkatkan kualitas perlengkapan alat musiknya yang jika ditotal telah menguras kocek Rp2 Miliar lebih hingga saat ini.

Meski sudah memiliki berbagai merk peralatan musik hingga mixer digital, Hary Kohar mengaku lebih menyukai mixer analog.

"Menurut saya, suaranya lebih bagus," katanya. Dia kemudian membuat grup band rock yang personelnya anak-anak muda : Mikha Band.

Semua itu semata hobi. Hary Kohar tidak begitu berorientasi komersial. Dia malah kerap meminjamkan sebagian peralatan musiknya kepada teman-teman, kerabat, atau keluarga yang membutuhkan untuk acaranya.

Sebagai seniman musik, menurutnya, dalam menjalankan usaha dan pergaulannya sehar-hari, selalu pakai seni. "Seni itu mengedepankan perasaan," katanya. Dia yakin dengan mengedepankan perasaan dalam usaha akan lebih langgeng dan lebih terasa indah.

"Usaha dan pertemanan yang langgeng itu tidak semata materi," katanya.

Di usianya yang sudah tidak muda lagi, Hary Kohar yang masih "ngerock" ingin mendedikasikan seni musik aliran kerasnya kepada para seniornya, teman-teman, kerabat, mitra, dan anak-anak muda saat ini lewat konser musik rocknya gratis untuk umum di halaman Hotel Sahid, Senin malam (15/1/2018).

Para pemain musik rock dan band rock yang lahir pada masa kejayaan musik rock tahun '70-80-an yang ada di Lampung seperti lahir kembali diajak Harry Kohar naik panggung di halaman Hotel Sahid, Senin malam (15/1/2018). Dia juga menghadirkan band rock dari Jakarta : Laskar Band. [PAKHO]

Komentar Pembaca
Peran Indonesia Ke Rohingya Masih Minim

Peran Indonesia Ke Rohingya Masih Minim

SELASA, 05 SEPTEMBER 2017 , 13:00:00

KPK Bisa Dibubarkan

KPK Bisa Dibubarkan

SENIN, 10 JULI 2017 , 21:00:00

Rekor! TNI AD 10 Kali Juara di ASAAM

Rekor! TNI AD 10 Kali Juara di ASAAM

SABTU, 08 JULI 2017 , 17:00:00

KAMIS, 31 AGUSTUS 2017 , 19:56:00