Lawang Sewu "Railway" Lorong Waktu Bangsa Indonesia

Pariwisata  JUM'AT, 04 MEI 2018 , 22:24:00 WIB | LAPORAN: HERMANSYAH

Lawang Sewu

Foto/RMOLLAMPUNG

WASTAFEL merk Vanden Berg & Co Amsterdan buatan tahun 1904 masih terawat dan terpakai hingga kini di toilet Kantor Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), Bundaran Tugu (Wilhelmjnaplein), Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah.

Wastafel mewah tersebut impor dari Belanda yang butuh waktu berbulan-bulan pakai kapal uap hingga bisa dipasang ke Kantor NIS yang kini dikenal dengan sebutan Lawang Sewu. Salah satu benda kecil jejak sejarah Bangsa Indonesia yang dirawat PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Di bekas kantor kereta api megah pertama di Indonesia itu, banyak jejak sejarah Bangsa Indonesia. Lawang Sewu bukan sekadar ikon heritage warisanVereenigde Oostindische Compagnie (VOC), tapi bisa bercerita banyak tentang sejarah Bangsa Indonesia.

PT KAI Devisi Regional (Divre) IV Tanjungkarang mengajak RMOLLampung menyelusuri lorong waktu (time tunnel) selama dua hari sejarah Bangsa Indonesia yang salah satu jejaknya lewat "railway" yang dimulai dari Lawang Sewu, Rabu (2/5/2018).

Guidenya, dua petinggi Divre Tanjungkarang, yakni Deputy Executive Vice President (Wakil Kepala Divisi) Asdo Artriviyanto didampingi Manager Humas Franoto Wibowo. Keduanya dikawal Simon Sadhariyono dan Benny dari PT KA Pariwisata.

Di Lawang Sewu, mereka mengajak Rmollampung.com dan belasan media lain menyelusuri lorong waktu Bangsa Indonesia. Dari Lawang Sewu, sarana transportasi dimulai di Tanah Jawa. Semarang pilihan karena berada di tengah Pulau Jawa dan ada pelabuhan internasional : Tanjung Perak.

Masa itu, kata Asdo Artriviyanto, Pemerintah Belanda ingin membangun sarana transportasi yang mumpuni di Indonesia. Pilihan yang murah-meriah adalah kereta api. Tapi, Pemerintah Belanda tak berani membangunnya karena usaha transportasi massal tersebut merugi di Belanda.

Paska keluarnya undang-undang tentang sarana transportasi perkeretaapian tahun 1866 No.132, perusahaan swasta, NIS, mencium peluang bisnis. Mereka siap membangun "railway" di Indonesia dan itu dimulai dari Koa Semarang dengan target jasa angkutan hasil bumi, antara lain gula dan kopi.

Insting bisnis NIS tepat. Perusahaan swasta perkeretapian tersebut sukses. Mereka kemudian membangun kantor yang representatif yang kini dikenal dengan Lawang Sewu. Semua bahan gedung pertamanya impor dari Eropa, salah satunya wastafel Vanden Berg & Co Amsterdan.

Semua kaca patri yang memperindah gedung masih terawat hingga kini. Bahkan, PT KAI mempertahankan setiap detail gedung. Batu bata yang diglasir warna kuning sekeliling gedung hanya dirawat pelampisnya agar awet. Lantai juga khas era itu.

Alat-alat komunikasi zaman dulu yang serba manual dan foto-foto tua mengajak pengunjung semakin dalam menyelusuri lagi jejak sejarah Bangsa Indonesia di lantai pertama gedung. Kursi tamu dari kayu terawat di lantai dua.

Gedung yang didesain C. Citroen dari J.F. Klinkhamer dan BJ Quendag berusaha menaklukan udara panas Kota Semarang dengan konsep "seribu pintu". Pintu-pintu yang banyak tersebut mampu meredam panasnya kota yang berada di Pesisir Utara, Pulau Jawa.

Gedung yang dibangun pada tahun 1904 dan selesai tahun 1907 tak lagi seseram yang dibayangkan mereka yang belum ke heritage tersebut. Lawang Sewu telah dikonservasi dan revitalisasi Unit Pelestarian Benda dan Bangunan Bersejarah PT KAI.

Kini, Lawang Sewu sudah bersih dan indah. Banyak wisatawan lokal dan internasional berkunjung ke situs tersebut. Lawang Sewu juga jadi lokasi pilihan foto prawedding dan acara-acara lainnya. Saat berkunjung, RMOLLampung melihat ada panggung dan tenda di halaman tengahnya.

PT KAI merawatnya sebagai heritage jejak sejarah Bangsa Indonesia. Setelah kemerdekaan RI, kantor NIS tersebut dipakai sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT KAI.

Kantor tersebut pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan, Jawa Tengah.

Pada masa perjuangan, peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang (14-19 Oktober 1945), Lawang Sewu jadi tempat pertempuran hebat pemuda AMKA (Angkatan Muda Kereta Api) melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang.
Pemerintah Kota Semarang, dengan Surat Keputusan Wali Kota No. 650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang.

Lawang Sewu, seribu pintu masuk menyelusuri jejak sejarah Bangsa Indonesia. Dari gedung tua tersebut, perkeretaapian Indonesia dimulai dan terus berlangsung hingga kini. Kereta api sebagai sarana angkutan barang dan penumpang yang aman dan murah.[don]

Komentar Pembaca
Menteri Enggar Urus Telur Saja Tidak Becus!

Menteri Enggar Urus Telur Saja Tidak Becus!

RABU, 18 JULI 2018 , 13:00:00

Negara Merugi, Jokowi Ikut Menikmati?

Negara Merugi, Jokowi Ikut Menikmati?

SENIN, 16 JULI 2018 , 15:00:00

Solusi RR Soal Dana Parpol Bernas!

Solusi RR Soal Dana Parpol Bernas!

SENIN, 16 JULI 2018 , 13:00:00

Dugaan Politik Uang Di Pilgub Lampung

Dugaan Politik Uang Di Pilgub Lampung

MINGGU, 08 JULI 2018 , 07:35:00

Peringati Al Quds Day

Peringati Al Quds Day

JUM'AT, 08 JUNI 2018 , 19:27:00