Potret Pilgub Lampung

Syahwat Politik Senggama Dengan Nafsu Bisnis

Opini  JUM'AT, 11 MEI 2018 , 10:18:00 WIB | OLEH: HERMANSYAH

Syahwat Politik Senggama Dengan Nafsu Bisnis
BOS besar Sugar Group Companies (SGC) Purwanti Lee Coulhault sudah terang-terangan mendukung Arinal Djunaidi sebagai calon gubernur Lampung 2019-2024. Konstitusi kita, tidak mempermasalahkannya, ada aturan mainnya.

Sudah berbeda dengan ketika H.M. Soeharto berkuasa selama tiga dekade, siapa yang akan jadi gubernur tergantung restunya. Pasca rontoknya Orde Baru, 1998, Era Reformasi menghendaki demokrasi, pemilihan langsung oleh rakyat, termasuk gubernur.

Waktu Orde Baru, jika pengusaha besar ingin nyaman, mereka cukup berlindung di ketiak "Cendana". Sekarang, pengusaha mau tak mau "ngasong" dengan menyokong calon kepala daerah dari belakang layar hingga langsung ikut joget-joget menawarkan langsung jagonya agar "dibeli" rakyat.

Sekaliber Ny. Lee sekalipun, vice president pabrik gula terbesar Asean, yang menguasai empat pabrik gula dan 132 ribu hektare lahan perkebunan tebu, mau tau mau ikut turun gunung merayu rakyat agar memilih pasangan calon yang paling dijagokannya.

Butuh 500 personel kepolisian untuk memastikan keamanan orang paling penting Sugar Group Companies (SGC) itu ketika menghadiri kampanye salah satu dari empat calon gubernur Lampung untuk periode 2019-2024 yang didukungnya: Arinal Djunaidi.

Banyak yang sudah lama tahu kedekatan Arinal Djunaidi dengan Ny. Lee, panggilan Purwanti Lee Coulhault. Syahwat politik untuk menjadi orang nomor satu di provinsi ini dan nafsu bisnis tetap eksis menguasai lahan telah bersenggama untuk mencapai klimaks kekuasaan.

Mau tidak mau, reformasi satu setengah dekade lalu telah menjadi keran demokrasi yang cendrung semakin liberal. Banyak pengusaha jadi politisi atau mengantarkan "orangnya" duduk di singgasana kekuasaan persis seperti yang dilakukan Ny. Lee.

Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ikrar Nusa Bhakti sudah mencium sejak empat tahun pasca reformasi, 2012, politik sudah terjerembab pada permainan uang dan kekuasaan. (MI, 17/9/2012).

Besarnya biaya (cost) politik yang harus dikeluarkan partai politik maupun para calon dalam pelbagai hajatan demokrasi, seperti pileg, pilpres maupun pemilukada, bukti demokrasi kita telah terperangkap demokrasi liberal.

Demokrasi yang cenderung "market sentris". Sebagai implikasinya, determinasi modal (kapital) dalam kehidupan demokrasi mendapatkan justifikasinya. "No bourgeoisie, No democracy," kata Barrington Moore (1966).

Berdasarkan pemikiran tersebut, demokrasi tumbuh dan berkembang jika kaum borjuis aktif dalam proses demokratisasi. Demokrasi model begini peluang pengusaha masuk area kekuasaan sesuai dengan hukum pasar.

Demokrasi liberal yang market sentris berlaku hukum dagang, transaksional, jual beli. Pemilukada menjadi soal menang-kalah, untung rugi. Meski dalam prakteknya, pengusaha tetap harus jaga-jaga kemungkinan rugi karena kalahnya sang jagoan dengan "nokang", main mata, bantu dikit-dikit, calonnya.

Berlakunya hukum dagang dalam demokrasi liberal, soal moralitas dan etika menjadi abu-abu, tidak jelas. Batasan bantuan materi pengusaha yang telah diatur terhadap para calon bisa saja dilabrak demi tuntutan kemenangan. Hukum pasar yang cenderung liberal.

Mereka yang harusnya ikut menjaga etika karena jabatan profesinya mengatur seperti itu ikut tergoda meraup keuntungan dari gurihnya pesta demokrasi lima tahunan. Semua urusannya transaksional, jual beli, hukum dagang, untung rugi.

Etika dan moral cukup untuk jargon-jargon penghias kampanye saja: demi kesejahteraan rakyat, berjuang bersama rakyat, bla bla bla. Semua jargon-jargon indah dan membuai sambil melempar sembako gula, minyak goreng, dan bagi-bagi kaos saringan tahu dan amplop.

Politik tak lagi untuk memeroleh kekuasaan demi keadilan dan kesejahteraan rakyat. Dengan dana sosialisasi yang tidak sedikit, kekuasaan telah menjadi media untuk mengejar keuntungan bisnis cukong yang lebih besar lagi.

Syahwat politikpun telah senggama sempurna dengan nafsu bisnis. Entah bakal lahir buah hati yang seperti apa kelak.

Tabikpun

*) Pimred RMOL Lampung

Komentar Pembaca
Komunitas Tionghoa Kapok Dukung Jokowi

Komunitas Tionghoa Kapok Dukung Jokowi

KAMIS, 24 MEI 2018 , 15:00:00

Harus Ada Reformasi Jilid II

Harus Ada Reformasi Jilid II

SELASA, 22 MEI 2018 , 17:00:00

Teriak Jokowi Haram, Demonstran Dipukul dan Ditangkap
Ridho Terus Galang Kemenangan

Ridho Terus Galang Kemenangan

SENIN, 16 APRIL 2018 , 09:20:00

Tabik Pun.... RMOLLampung Hadir

Tabik Pun.... RMOLLampung Hadir

RABU, 18 APRIL 2018 , 07:59:00

Sejumlah Tokoh Nasional Hadiri Hari Jadi <i>RMOL Bengkulu</i>