Mbah Kacang Merajut Malam Dengan Selalu Bersyukur

Oleh Muzzamil Jayamahe

Lifestyle  JUM'AT, 08 JUNI 2018 , 00:05:00 WIB

Mbah Kacang Merajut Malam Dengan Selalu Bersyukur

Mbah Kacang / RMOLLampung

USIANYA terbilang senja, 65 tahun. Namun semangatnya melawan pahit getir dan kerasnya hidup, patut diacungi dua jempol, terus berbinar enggan redup.

Hampir setiap malam, sosoknya dapat dengan mudah dijumpai di depan ruko nomor 98 di sudut pertokoan Jalan Raden Intan, tempat biasa ia setia duduk menggelar dagangan, persisnya di belokan pertigaan Jalan Katamso (Simpur Center) arah Telukbetung, Bandarlampung.

Perempuan paruh baya ini seorang penjual aneka makanan ringan. Bukan jajanan, ia menolak sebutan itu, tetapi sebut saja salah satunya kacang rebus sepinggan kecil tiga ribuan.

Ada juga emping melinjo, kacang kupas garing, kelanting, keripik singkong, keripik pisang, dan beberapa makanan lainnya yang semuanya sebungkus kecil harganya "diserbu", katanya. Dibanderol serba seribuan. Walah.

Para pelanggannya, dari berbagai kalangan, biasa memanggil nenek 16 cucu dari empat putra-putrinya ini, si Mbah. "Panggil saja, Mbah Kacang," ujarnya datar, saat ditemui Kamis (7/6/2018) malam.

Ya, Mbah Kacang. Namanya cukup dikenal bukan saja di lingkungan tempat tinggalnya di bilangan Gang Delima, Kelurahan Lebakbudi, Tanjungkarang Barat, Bandarlampung saja. Rerata pelanggannya, tua-muda, besar-kecil, miskin kaya, telah hampir lima belas tahun akrab dengan sebutan unik itu.

Sambil menyantap kacang rebus, awak redaksi coba mengorek lebih dalam keseharian wanita asal Adiluwih, Kabupaten Pringsewu ini.

"Saya mulai berjualan sudah lama, sejak suami saya meninggal tahun 2003. Penghasilannya ya cukup buat saya, berapa pun dapatnya saya bersyukur, karena rezeki kan sudah ada yang ngatur," katanya.

Seolah mengenang, perempuan penyala yang biasa berjualan seorang diri ini tak ingin larut dalan kesedihan usai ditinggal mati sang suami. Bermodal sekenanya, bertahun lamanya ia jalani profesinya ini ditemani dua bakul bambu dan "tampah" sakti, tempat ia menggelar barang dagangannya.

Di tempat yang tak pernah sepi orang lalu lalang dan ribuan kendaraan bermotor melintas di jalur searah itu, Mbah Kacang telah bersiaga usai lepas Magrib hingga hampir tengah malam. "Biasa jam abis Magrib gitu sampai jam sebelas (pukul 23.00), Om," akunya dengan penglihatan yang masih sempurna.

Dari itu, waktu berjualan si Mbah tak pernah berubah termasuk di bulan suci Ramadan. Bagaimana saat Hari Raya Iedulfitri nanti, apakah Mbah Kacang akan mudik ke Pringsewu? "Iya Om, nanti mudik Lebaran ketiga. Di kampung kan masih ada paman dan anak saya juga. Setahun sekali. Kalau makam almarhum suami kan di sini," ungkapnya lagi.

Walau pun hanya penjual kacang, di senjakala usia wanita tangguh ini --bertarung dengan dinginnya udara malam dan kadang harus rela tubuh basah kuyup kehujanan, tradisi lekat memberikan uang tunjangan hari raya (THR) kepada cucu-cucunya, selalu dapat ia lakukan.

"Saya nyelengin (menabung), Om. Dari hasil berjualan, sengaja saya sisihkan buat keperluan tak terduga. Tapi kalau THR cucung (cucu --Red) pasti selalu saya kasih. Saya jualan ya buat nyenengin mereka juga," jelasnya lugas dalam logat Jawa yang khas.

Menutup perbincangan, meski pun yakin tidak akan beroleh jawab memuaskan, awak redaksi mencoba kembali bertanya nama aslinya. Benar saja, lagi-lagi pil pahit yang harus ditelan. Penonton kecewa, istilahnya kalau merujuk sebuah pertunjukan. Bah, hebat kali si Mbah!

"Kenapa sih Om, nanya nama saya terus? Udah itu aja, panggil saya, Mbah Kacang!" tutupnya.

Ya sudahlah, Mbah. Nyerah deh. Tetapi terima kasih, sebab Mbah telah memberi satu lagi pelajaran, bahwa kemuliaan dan kebahagiaan hidup tak melulu hadir dari gelimang harta kekayaan. Kebahagiaan justru lebih sering datang, dari indahnya sebuah kesederhanaan.

Bahagia itu sederhana, kata Presiden Joko Widodo.

Pembaca budiman, jika Anda kebetulan melintas, singgahlah ke tempat si Mbah berjualan. Dan pastikan kesamaan jawab, saat Anda dari sekadar iseng sampai super anteng, ajukan tanya siapa nama aslinya.

Siap-siap, pastikan jawaban untuk kita takkan bersayap, sebab perempuan berwajah bulat telur yang dalam kesehariannya mengaku biasa mengenakan pakaian kebaya dan kain jarik ini akan lugas menjawab, "panggil saya, Mbah Kacang." [hms]

*) kontributor RMOLLampung

Komentar Pembaca
Adhie Massardi - Unegh Unegh (Bag.1)

Adhie Massardi - Unegh Unegh (Bag.1)

SELASA, 19 JUNI 2018 , 11:00:00

Indonesia Bukan Antek Beijing dan AS!

Indonesia Bukan Antek Beijing dan AS!

SENIN, 18 JUNI 2018 , 09:00:00

Said Aqil: Staquf Ke Israel Bukan Agenda NU!

Said Aqil: Staquf Ke Israel Bukan Agenda NU!

KAMIS, 14 JUNI 2018 , 12:00:00

Sejumlah Tokoh Nasional Hadiri Hari Jadi <i>RMOL Bengkulu</i>
Dua Korea dalam Satu Meja

Dua Korea dalam Satu Meja

JUM'AT, 27 APRIL 2018 , 14:49:00

UBK dan Iran Jalin Kerjasama

UBK dan Iran Jalin Kerjasama

RABU, 25 APRIL 2018 , 15:57:00