Menguji Tanduk "Hanuang Bani"

Oleh Herman Batin Mangku

Opini  RABU, 11 JULI 2018 , 10:37:00 WIB

Menguji Tanduk

Herman Batin Mangku

MASYARAKAT adat Lampung, khususnya Saibatin, terhenyak ketika Seno Aji, tokoh muda Partai Golkar Kota Bandarlampung, mengatakan tukkus atau kikat hanuang bani seperti tanduk jin pencabut nyawa.

"Mahkota" kaum laki-laki masyarakat adat Kerajaan Paksi Pak Skala Brak, yang jadi kebanggaan sejak ratusan tahun lalu, jadi "kelakar" dikatakan bentuknya mirip jin pencabut nyawa.

Tukkus atau kikat hanuang bani, bagi masyarakat adat Lampung Saibatin yang terbentang dari Kabupaten Lampung Barat, Tanggamus, hingga Kabupaten Lampung Selatan, memiliki filosofi tinggi.

Hanunan bani bukan kambing hutan biasa. Tidak semua daerah memiliki hanuang bani yang hidupnya di tebing tebing yang tinggi dan terjal dengan makanan dedauan yang terpilih di Gunung Pesagi, Kabupaten Lampung Barat.

Hanuang bani sangat pemberani, tanduk ramping, pendek, tajam, kuat dan melengkung ke belakang. Tubuh hewan ini juga gagah dan sangat pemberani.

Hanuang bani memiliki karakter setia dengan komunitasnya dan gagah berani termasuk ketika harus berhadapan dengan harimau.

"Mak makisit anjak penetokhan" atau tidak akan pernah sedikitpun mundur dalam membela diri.

Dari situlah, masyarakat Lampung Saibatin, khususnya Paksi Pak Skala Brak, menjadikannya sebagai simbol kehangguman dan kemulian sejak Abad XV.

Secara turun-temurun ratusan tahun, lewat tukkus atau kikat hanuang bani, masyarakat adat mewarisi nilai-nilai filosofi sosok hanuang bani yang setia dan gagah berani tersebut.

Setia terhadap masyarakat adat, saibatin atau pemimpin adatnya, serta menjaga dan menjunjung tinggi kehormatan masyarakat adat Lampung Saibatin.

Keberanian, semua panglima, bahattur, hulubalang, semua punggawa harus memiliki sifat tersebut, berani mempertaruhkan nyawa menjaga Sultan Paksi Pak Skala Brak maupun para saibatin marga/kebandakhan.

Saibatin marga yang menjadi rujukan harkat dan martabat masyarakat adat, perawat adat, pemelihara batu khayat.

Para punggawa adat dituntut cerdas dan lincah dalam melaksanakan perintah atau titah (lapahan kawal saibatin) agar tujuan yang hendak dicapai sesuai dengan harapan.

Filosofi yang ada pada kikat hanuang bani itulah yang terus dirawat masyarakat adat sejak ratusan tahun lalu sehingga hidup damai.

Meski masyarakat adatnya dari sekitar Gunung Pesagi telah tersebar ke berbagai kabupten/kota di Lampung sejak tahun 1515.

Para hulu balang Kerajaan Sekala Brak menyebar hingga selatan, tepatnya di wilayah Wayhandak, Kalianda, Lampung Selatan, untuk membesarkan kerajaan dengan tetap memegang teguh adat saibatin yang lazim disebut "ngebujakh mawat mincakh".

Berdasarkan "wawarahan", cerita turun-temurun, kikkat hanuang bani dipercaya mempunyai kekuatan magis yang luar biasa bagi setiap para punggawa yang memakai dan meyakininya.

Jika sesorang sudah memakai dan mengenakan kikkat hanuang bani tumbuh rasa percaya diri, berani, dan setia, serta muncul perasaan sayang terhadap sesama kerabat dengan selalu ingin saling melindungi dan menyayangi atau dalam istilah Lampung seangkonan, sekahutan, seuyunan.

Kikkat hanuang bani itu salah satu pengikat masyarakat adat saibatin Paksi Pak Skala Brak. Di Pesisir Wayhandak, ada Tugu Hanuang Bani.

Oleh karena itu, ketika Seno Aji bilang hanuang bani mirip jin pencabut nyawa, masyarakat adat terhenyak, bergejolak, dan merasa dilecehkan oleh "kelakarnya".

Mereka merasa komentar tersebut merupakan penghinaan terhadap simbol adat. Para panglima berusaha menahan kemarahan masyarakat adat.

"Saudara Seno Aji, semoga jin yang anda maksud tidak mencabut nyawa anda," ujar Panglima Alif, panglima tertinggi Paksi Pak Skala Brak Wilayah Selatan.

Dia menilai Seno Aji lancang dan angkuh dengan telah melecehkan simbol sakral kikkat hanuang bani. "Jari tanganmu adalah harimaumu," katanya.

Namun, untuk meredam gejolak masyarakat adat, Panglima Alif memilih langkah bijak. Dia dan para hulu balang dan para "pemuda hanuang bani" memilih ke Polda Lampung.

Mereka mendampingi Amir Faisal Sanjaya, calon anggota DPD RI, melaporkan dugaan pelecehan ke Polda Lampung, Selasa (10/7). Amir Faisal Sanjaya memposting fotonya memakai kikkat hanuang bani yang lantas dikomentari mirip jin pencabut nyawa.

"Kami para panglima adat Paksi Pak Skala Brak dari wilayah Selatan Wayhandak maupun wilayah Kabupaten Tanggamus mengutuk komentar Seno Aji," ujar Panglima Alif.

Dia meminta pertanggungjawaban Seno Aji kepada masyarakat adat Lampung, terutama masyarakat adat saibatin Paksi Pak Skala Brak dari barat hingga selatan.

Para pemuda "hanuang bani" menuntut tokoh muda Partai Golkar Lampung itu minta maaf secara adat ke lima panglima adat : Panglima Tapak Belang, Panglima Elang Berantai Panglima Sindang Kunyayan, Panglima Alif Jaya, dan Panglima Pemutokh Agung.

Ada pepatah "mulutmu harimaumu". Di era digital, era media sosial, lewat UU ITE, pepatah tersebut termodifikasi dengan sendirinya jadi "jejarimu harimaumu". Hanuang bani tak takut dengan harimau. Tabikpun.

*) jurnalis


Komentar Pembaca
Rumah Politisi PKS Dilempar Bom Molotov

Rumah Politisi PKS Dilempar Bom Molotov

KAMIS, 19 JULI 2018 , 13:00:00

Menteri Enggar Urus Telur Saja Tidak Becus!

Menteri Enggar Urus Telur Saja Tidak Becus!

RABU, 18 JULI 2018 , 13:00:00

Negara Merugi, Jokowi Ikut Menikmati?

Negara Merugi, Jokowi Ikut Menikmati?

SENIN, 16 JULI 2018 , 15:00:00

Dugaan Politik Uang Di Pilgub Lampung

Dugaan Politik Uang Di Pilgub Lampung

MINGGU, 08 JULI 2018 , 07:35:00

Peringati Al Quds Day

Peringati Al Quds Day

JUM'AT, 08 JUNI 2018 , 19:27:00