Krakatau Saat Bergairah, ”Beautifully Dangerous” (2)

Oleh Dwi Rino Attabin

Pariwisata  MINGGU, 05 AGUSTUS 2018 , 12:33:00 WIB | LAPORAN: HERMANSYAH

Krakatau Saat Bergairah, ”Beautifully Dangerous” (2)

Krakatau / Dwi Rino Attabin

TAHUN 1883, dunia telah mencatat Krakatoa, Gunung Krakatau purba, meletus paling dahsyat dalam sejarah. Erupsinya kali ini menjadi panggilan tersendiri bagi Om Budhi Marta Utama.

Dwi Rino Attabin mencatat perjalanan atau tripnya yang diambil Kantor Berita RMOLLampung lewat akun Akunrino.id untuk menyimak dan berbagi perjalanan beautufully dangerous” Budi, Rino, dan kawan-kawannya. Berikut kisahnya :

Fotografer senior Lampung itu sudah puluhan kali mengunjungi gunung tersebut dan beberapa kali mengabadikan fenomena erupsinya.

Beliau mengajak lewat grup WhatApps @GenpiLampung untuk sharecost ”Hunting Lava Pijar Gunung Anak Krakatau”. Tapi, hanya beberapa anggota saja yang berminat.

Kalau kata Bang Aries @riez_aries, hasil seleksi berdasarkan ketampanan dan kemampuan bertahan hidup akhirnya terpilih tiga peserta dari grup Genpi Lampung, Om Budhi @paralampung, Bang Aries @riez_aries dan saya Rino @akunrino.

Untungnya ada tambahan peserta dari luar grup, yaitu om Dedi @dediacad kawan om Budhi, bang Ferdi @ferdi_awed sang Pewarta Foto, Ardy @ardynar kawan bang Ferdi dan satu bule nyasar dari Prancis si Pier.

Rabu, 18 Juli 2018, pukul 07.00 WIB, kami sepakat untuk berkumpul di sekitar Lapangan Saburai Bandarlampung. Seperti biasa, keterlambatan datang sudah jadi pemakluman dan penundaan keberangkatan juga sudah jadi hal biasa.

Terlebih dua sejoli Bang Ferdi dan Ardy yang agak lumayan lama kami tunggu, nyasar di kota sendiri atau malah memang kebiasaan dari jaman sekolah hobi terlambat masuk kelas.

Setelah pasukan terkumpul pukul 08.30 WIB, kami langsung tancap menuju Kota Kalianda, Lampung Selatan, dengan pilot om Dedi dan co-pilot om Budhi.

Sepanjang jalan diisi dengan obrolan perkenalan, bercanda dan tegur sapa, karena memang beberapa masih belum saling mengenal, terlebih si Pier, sang bule dari Perancis.

Sekitar lebih dari satu jam sampailah kami di Kota Kalianda, dan singgah sejenak di sebuah warung makan untuk mengisi perut karena ada anggota tim yang belum melaksanakan kewajiban sarapan.

Beberapa dari anggota tim menyantap sarapannya, sedangkan yang lain ngopi sambil menikmati gorengan.

Di lain sudut, Om Budhi menawari Pier untuk mencoba makanan yang pasti belum pernah dia coba, tapi dia langsung berkomentar enak sekali” dengan logat bulenya.

Karedok, yaaah makanan Indonesia banget, merupakan salah satu makanan khas Sunda berisi sayuran mentah yang dilumuri bumbu kacang sebagai sausnya.

Setelah kenyang, kami segera menuju Dermaga Canti, karena sudah ada informasi dari om Budi kalau bang Candra sang pilot Kapal sudah standby di Dermaga.

Penerbangan Laut

Tak sampai setengah jam kami sampai di Dermaga Canti, dari sini lah nantinya perjalanan laut menuju Gunung Anak Krakatau dimulai. Bang Candra dan beberapa awak kapal langsung menyambut kami dan bergegas membawa segala perlengkapan ke kapal.

Tambahan logistik untuk bertahan hidup nanti (padahal cuma mie instan dan kopi), sudah menyempatkan berbelanja di minimarket depan dermaga dan nasi bungkus masakan ibu-ibu warung makan sekitar dermaga sebagai stok makan siang.

Pukul 11.00 WIB, kami memulai berlayar mengarungi Selat Sunda menuju tengah samudera. Beberapa menit kapal berlayar, bang Aries diam-diam membuka nasi bungkusnya dan nampak sekali nasi kombinasi sayur dan ikan dipindah perlahan ke perutnya, yang berujung menular ke saya dan yang lain.

Sejam lebih perjalanan, terlihat Dermaga Pulau Sebesi yang akhirnya kapal menyandarkan hatinya sejenak di sana. Ada beberapa kebutuhan pokok yang di bawa awak kapal yang harus didistribusikan ke Pulau Sebesi tersebut.

Pulau Sebesi adalah pulau berpenduduk yang biasanya menjadi tempat singgah dan bermalam bagi para wisatawan yang melakukan trip ke Gunung Anak Krakatau. Saya menyempatkan waktu untuk menerbangkan si Campung Rekam, mengambil footage secukupnya. (BERSAMBUNG)

*)Fotografer, Sekretaris UPK Tanjungbintang Lamsel.

Komentar Pembaca
Rachmawati: Vivere Pericoloso

Rachmawati: Vivere Pericoloso

JUM'AT, 17 AGUSTUS 2018 , 17:00:00

BENANG MERAH (EPS.151): Tak Ada Paslon Yang Tak Retak
Hadi Tjahjanto - TNI dan Polri (Bag.2)

Hadi Tjahjanto - TNI dan Polri (Bag.2)

RABU, 15 AGUSTUS 2018 , 18:00:00