Krakatau Saat Bergairah, ”Beautifully Dangerous” (3)

Oleh Dwi Rino Attabin

Pariwisata  MINGGU, 05 AGUSTUS 2018 , 13:25:00 WIB | LAPORAN: HERMANSYAH

Krakatau Saat Bergairah, ”Beautifully Dangerous” (3)

Krakatau dari Rakata / Dedi Budi Acad

PERJALANAN mengabadikan Anak Gunung Krakatau berlanjut menuju target. Satu jam setengah waktu yang dibutuhkan dari Pulau Sebesi ke Gunung Anak Krakatau, istirahat sejenak jadilah.

Tak sempat pejamkan mata terlalu lama, sudah terdengar teriakan Krakatau, Krakatau!”. Yes, dari kejauhan terlihat penampakan Gunung Anak Krakatau membuat semua keluar dari dalam kapal berpindah ke atas dan depan kapal untuk mencari spot nyaman memotret.

Cekrek…cekrek...cekrek, suara shutter kamera sudah mulai bersahutan. Sesekali juga terlihat segerombolan asap tebal keluar dari puncak Gunung Anak Krakatau, itu erupsinya.

Semakin mendekat ke Krakatau, semakin terasa penglihatan mulai terganggu, ternyata debu erupsinya mengarah ke kapal kami.

Untung sudah bersiap dengan kacamata anti badai, yang tak tertolong adalah baju putih Pesona Indonesia” yang saya pakai, sudah berubah menjadi abu-abu. Om Budhi meminta sang pilot untuk menggerakkan kapal mengitari Gunung Anak Krakatau, namun tetap dalam radius aman.

Letusan demi letusan terjadi, suara seperti gemuruh petir menyapa telinga. Disusul gumpalan asap dan lontaran batu terlihat dari kejauhan.

Tak henti-hentinya kami mengabadikan momen itu, foto dan video, dari kamera maupun handphone, semua merekam kejadian luar biasa yang ada di depan mata.

Sesekali Pier dinobatkan sebagai model of the day, untuk sekedar inframe sebagai pemanis dalam komposisi foto. Nampak juga para awak kapal menyempatkan diri berselfie ria, ternyata mereka juga narsis.

Setelah puas dengan belasan letusan, pukul 14.30 WIB, kapal mengarah ke sebuah pulau besar tepat di seberang Gunung Anak Krakatau.

Ada tiga pulau yang ada di sekitar Gunung Anak Krakatau, yakni Pulau Panjang, Pulau Sertung dan Pulau Rakata yang berjarak sekitar tiga kilometer dari Gunung Anak Krakatau.

Radius sangat aman untuk status waspada saat ini dan menjadi tempat singgah sementara dan sebagai spot untuk hunting lava pijarnya.

Pulau berpasir hitam dan bersemak belukar, terdapat sedikit sisi pulau spot untuk kami mendirikan tempat tinggal sementara. Pier dan om Dedi membangun tendanya, yang lain sibuk mencari batang pohon yang kuat untuk menambatkan hammock sebagai tempat bergelantungan memejamkan mata malam nanti.

Berselang waktu, yang lain sibuk menentukan spot menancapkan tripodnya, saya dengan semangat memasak air putih untuk menyeduh kopi, ngopi ngapak ngopi!

Petunjuk Om Budhi, lava pijar akan terlihat dan saat peralihan dari terang ke gelap, artinya ba’da magrib baru akan nampak.

Dan lagi-lagi saya menyempatkan menerbangkan si Capung Rekam, guna mendapatkan aerial view Pulau Rakata dan Gunung Anak Krakatau dari kejauhan, setelah itu baru mencari spot untuk memotret.

Menjelang petang, semua sudah berada di tempatnya masing-masing, Bang Aries, Om Dedi dan Pier memilih sayap kiri, saya dan Om Budhi sebagai gelandang tengah, sedangkan Bang Ferdi dan Ardy di posisi sayap kanan.

Lengkap sudah strategi menyerang kami, tanpa memikirkan pertahanan. Sedikit tegukan kopi hangat dari gelas darurat potongan botol air mineral, menemani petang menunggu detik-detik letusan terjadi.

Pengaturan manual kamera, dengan ISO rendah, diafragma lensa di pertengahan atau bahkan lebih, untuk mengusahakan speed rendah, agar pergerakan lontaran lava pijar bisa terekam di foto.

Senja indah mengiringi hari menyambut malam, kepulan asap menampakkan diri dengan diiringi suara dentuman letusan yang besar.

Dengan sigap, semua memencet tombol shutter kameranya masing-masing, masa iya kamera tetangga. Setelah sekian detik menangkap gambar dan akhirnya terlihat di layar kamera.

Teriakan demi teriakan terdengar, suara kegembiraan telah bisa mengabadikan lava pijar dalam sebuah foto, yang ternyata indah saat hari gelap. Berkali-kali letusan, berkali-kali pula kamera menangkapnya.

Sampai akhirnya suasana sudah terlalu gelap dan sang Gunung Anak Krakatau tak terlihat lagi bentuk tubuhnya, yang artinya sudah tidak maksimal untuk pengambilan foto.

*)Fotografer, Sekretaris UPK Tanjungbintang Lamsel.

Komentar Pembaca
Rachmawati: Vivere Pericoloso

Rachmawati: Vivere Pericoloso

JUM'AT, 17 AGUSTUS 2018 , 17:00:00

BENANG MERAH (EPS.151): Tak Ada Paslon Yang Tak Retak
Hadi Tjahjanto - TNI dan Polri (Bag.2)

Hadi Tjahjanto - TNI dan Polri (Bag.2)

RABU, 15 AGUSTUS 2018 , 18:00:00