Awal Ketegangan Politik Dalam Dunia Islam

OLEH: NASARUDDIN UMAR

Opini  SELASA, 14 AGUSTUS 2018 , 14:40:00 WIB

Awal Ketegangan Politik Dalam Dunia Islam

Nasaruddin Umar/Net

ISU suksesi dan ketegan­gan politik dalam dunia Is­lam berawal pada masa Khulafa’ al-Rasyidin. Han­ya saja, kearifan para sa­habat Nabi berhasil mere­dam ketegangan itu. Akan tetapi pasca Khulafa’ al- Rasyidin, ketegangan poli­tik tak terbendung lagi dan terjadilah apa yang biasa disebut dengan "fitnah kubra", yaitu fit­nah yang melahirkan perpecahan dan perang saudara melanda umat Islam saat itu.

Fitnah Kubra memuncak ketika Ali dan Mu'awiyah berseteru, masing-masing tidak ada yang mau mengalah di dalam memere­butkan pemimpin yang akan menggantikan Utsman. Ali sudah dilantik menjadi khalifah keempat tetapi tidak diakui oleh Mu’awiyah. Karena tidak ada yang mau mengalah, maka terjadilah peperangan yang disebut Perang Shiffin. Mu'awiyah didukung oleh 'Aisyah, istri Nabi dan Ali tentu saja didukung oleh istrin­ya, Fathimah, putri Nabi. Perang tidak dapat dielakkan antara keduanya. Di tengah perang saudara ini, Amr ibn 'Ash yang dikenal seba­gai politikus cerdik di pihak Mu'awiyah, me­nyerukan gencatan senjata dan perdamaian. Ia menggunakan simbol 500 Al-Qur’an yang diusung di ujung tombak sambil mengajak se­mua pasukan untuk kembali kepada penye­lesaian secara Al-Qur'an. Ali dan Mu’awiyah menyetujuinya. Ali mengutus Abu Musa al- Asy'ary, seorang ulama yang disegani dan Amru ibn Al-Ash mewakili pihak Mu’awiyah. Amr ibn 'Ash tahu keshalihan dan kelemahan Abu Musa. Amr meminta agar demi kemuliaan Islam dan demi kemaslahatan umat Islam, se­baiknya Ali- dan Mu'awiyah mengundurkan diri lalu dicari tokoh lain yang lebih netral.

Dengan lugu Abu Musa, perunding me­wakili pihak Ali ibn Ai Thalib menerima usulan itu. Ia diminta berpidato di lebih awal di de­pan massa dan pasukan kedua belah pihak. Ia menyerukan bahwa sekarang ini tidak ada lagi khalifah dan kini saatnya kita akan men­cari khalifah yang dapat diterima oleh semua pihak. Tiba giliran Amr ibn 'Ash, menelikung pernyataan itu dengan mengatakan, oleh kar­ena sekarang tidak ada lagi khalifah maka dengan ini kami melegalkan Mu’awiyah seba­gai khalifah. Tentu saja pihak Ali tidak meneri­manya, maka peperangan pecah kembali. Be­gitulah seterusnya hingga Ali mati terbunuh.

Perang Shiffin merupakan perang saudara dalam dunia Islam. Peperangan ini sering disebut fitnah kubra atau fitnah terbesar da­lam sejarah umat Islam. Fitnah inilah kemu­dian melahirkan aliran teologi seperti syi'ah, murji'ah, khawarij, dan simbol ahlu sunnah.

Apa yang ditampilkan Amr ibn 'Ash itulah contoh Islam politik. Ia mengecoh lawannya dengan menggunakan simbol Al-Qur'an dan bahasa agama. Ia membakar emosi umat dengan menggunakan ayat dan hadis untuk mencapai kemenangan politik. Ia memojok­kan orang lain dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis. Ia juga mengguna­kan ayat dan hadis untuk menghilangkan dan membunuh karakter lawan-lawan politiknya. Abu Musa al-Asy'ary dapat dikatakan simbol dari politik Islam dan Amr ibn 'Ash merupakan simbol Islam politik.


Komentar Pembaca
Ketum PP Muhammadiyah Siap Menangkan Prabowo-Sandi

Ketum PP Muhammadiyah Siap Menangkan Prabowo-Sandi

JUM'AT, 21 SEPTEMBER 2018 , 17:00:00

Kedok #2019GantiPresiden Terbongkar

Kedok #2019GantiPresiden Terbongkar

JUM'AT, 21 SEPTEMBER 2018 , 15:00:00

Grup Tari Saman Tuna Netra Pecahkan Rekor MURI

Grup Tari Saman Tuna Netra Pecahkan Rekor MURI

KAMIS, 20 SEPTEMBER 2018 , 21:00:00

The ads will close in 10 Seconds