Utang Bank Dunia Untuk Kawasan Wisata Rampas Ruang Hidup Rakyat

Pariwisata  KAMIS, 11 OKTOBER 2018 , 20:09:00 WIB | LAPORAN: HERMANSYAH

Utang Bank Dunia Untuk  Kawasan Wisata Rampas Ruang Hidup Rakyat
RMOLLampung. Dana utang dari World Bank untuk pembangunan kawasan wisata merupakan jebakan yang merampas ruang hidup dan ruang kelola rakyat Indonesia, kata Susan Herawati.
Sekretaris Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) itu mencatat, hingga 30 Mei 2018, Bank Dunia telah memberikan utang 300 juta dolar AS atau setara R 4,2 triliun kepada pemerintah Indonesia.

Utang itu disebut untuk mendukung pembangunan infrastruktur pariwisata di tiga kawasan, yaitu, Danau Toba, Mandalika, dan Borobudur. Dana itu juga rencananya dipakai untuk daerah wisata Jawa Tengah bagian selatan.

Infrastruktur pendukung dimaksud meliputi pembangunan jalan baru, bandara baru, dan lain sebagainya. Bank Dunia bahkan mengklaim, akan ada tiga juta masyarakat Indonesia menerima manfaat dari pembangunan pariwisata.

Melalui siaran pers yang dilansir Kantor Berita Politik RMOL,  Kamis (11/10), Susan mengatakan utang pariwisata Bank Dunia tersebut takkan sedikitpun membangun perekonomian masyarakat pesisir.

Justru, dengan dibangunnya banyak infrastruktur, pariwisata menjadi ekstraktif serta tidak ramah lingkungan.

"Masyarakat pesisir telah menderita akibat proyek pariwisata karena tanahnya dirampas. Pariwisata, pesisir khususnya, merupakan modus baru perampasan ruang hidup di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil,” katanya.


Komentar Pembaca
Mabes Polri Sambangi Redaksi RMOL

Mabes Polri Sambangi Redaksi RMOL

RABU, 17 OKTOBER 2018 , 06:27:00

The ads will close in 10 Seconds