Indonesia Pasca 212, NKRI Dalam Balutan Islam

OLEH HILMY ALMASCATY

Opini  MINGGU, 16 DESEMBER 2018 , 09:21:00 WIB

Indonesia Pasca 212, NKRI Dalam Balutan Islam
PERHATIAN dunia kembali  tertuju ke Jakarta usai Reuni 212. Pada Konfrensi Asia Afrika tahun 1955, pemikir muslim dari Algeria, Malek Ben Nabi pernah berkata: pascaperang dunia ke dua, (peradaban) Islam bukan lagi akan berpusat di Mekkah, Cairo ataupun Baghdad, namun akan berpindah ke Jakarta.

Pernyataan ini diulang kembali pada tahun 1992 oleh peneliti tersohor Amerika, Alvin Toffler di depan Konfrensi Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM) yang menyatakan dengan tegas pusat (peradaban) Islam akan berpindah dari tradisi lokalnya (Timur Tengah) menuju kawasan ini (Indonesia-Malaysia).”

Demikian pula halnya cendekiawan Indo-Pakistan di Amerika, Fazlurrahman jauh sebelumnya (tahun1970-an) bersama cendekiawan muslim terkemuka Alam Melayu, SMN. Al-Attas menyebutkan kawasan ini (Asia Tenggara) akan menjadi bintang baru peradaban Islam atau al-Mustaqbal li hadza al-Dien” sebagaimana disebutkan fundamentalis terkemuka Mesir, Sayyid Qutb. (lihat: Almascaty HB, Ummah Melayu Kuasa Baru Dunia Abad 21, Kuala Lumpur: Berita Publ., 1994)

Kini, sejarah mulai membuktikan harapan para visioner di atas mulai menjadi kenyataan. Terutama setelah munculnya kehancuran dahsyat pasca Arab Spring” yang mengobarkan dunia muslim Timur Tengah. Pusat peradaban Islam awal yang pernah menjadi mercusuar dunia itu tercabik-cabik porak poranda.

Pertikaian dan provokasi telah mengantarkannya menuju perang saudara, dan mengakibatkan kehancuran Iraq, Libia, Suriah, Afghanistan, Yaman serta mengancam resesi dahsyat Turki, Saudi Arabia maupun negara Teluk lainnya.
Teror, perang, kelaparan, keterbelakangan, kediktaroran adalah gambaran dunia Timur Tengah masa kini yang disuguhkan para pembenci Islam untuk memadamkan cahaya Islam.

Komentar Pembaca

The ads will close in 10 Seconds