Bulog Dalam Dilema

"Surplus" Versus Beras Busuk Di Gudang

Oleh Ilwaldi Perkas

Opini  KAMIS, 21 FEBRUARI 2019 , 23:10:00 WIB

PERUM Bulog kini dalam dilema, setidaknya sejak terhentinya penyaluran beras raskin. Dulu, pengadaan beras bisa dilakukan jor-joran, tapi kini harus disesuaikan dengan kemampuan menjual kembali. Intinya, kini, semua divre harus memutar otak untuk mencari jalan: taget pengadaan sukses, penyaluran lancar. Mungkinkah?

Penugasan penyerapan beras petani oleh pemerintah (Kementerian Pertanian) menjadi dilema yang membuat pusing para pejabat Bulog di daerah-daerah. Penugasan ini, mirip-mirip seperti mendesak Bulog membelanjakan anggaran pengadaannya, tanpa memikirkan nasib beras pengadaan itu nantinya.

Jika diasumsikan Perum Bulog Lampung sukses mengulang pengadaaan sampai 150 ribu ton seperti yang pernah dicapai pada 2016 lalu, hampir bisa dipastikan beras tersebut hanya menumpuk di gudang-gudang.

Penumpukan beras identik dengan risiko beras rusak, susut, dan mungkin juga hilang, meski yang terakhir jarang ada laporanya.

Beras yang menumpuk di gudang harus diurus dengan seksama yang sudah barang tentu menimbulkan biaya, seperti biaya fumigasi yang harus dilakukan berkala agar beras tak diserang kutu maupun rayap. Dan jika harus menumpuk lama, dan fumigasi terus-terusan, maka tunggulah kehancuran: beras rusak (rasa dan kualitas menurun) serta penyusutan menjadi sulit dikendalikan.


Komentar Pembaca
Heboh Pria Berpistol Di Jakarta Pusat

Heboh Pria Berpistol Di Jakarta Pusat

SABTU, 15 JUNI 2019 , 17:00:00

Harta Jokowi Bertambah 13 Miliar Dalam 13 Hari

Harta Jokowi Bertambah 13 Miliar Dalam 13 Hari

JUM'AT, 14 JUNI 2019 , 21:00:00

Pesan Danyon Brimob H-1 Jaga MK

Pesan Danyon Brimob H-1 Jaga MK

KAMIS, 13 JUNI 2019 , 21:00:00

The ads will close in 10 Seconds