Golput Dan Apatisme Politik

Oleh Fauzan Luthsa

Opini  SABTU, 02 MARET 2019 , 23:17:00 WIB

Golput Dan Apatisme Politik
DALAM sejarah Indonesia, gerakan Golput mulai popular pada tahun 1971, yang digawangi Arief Budiman. Gerakan protes tersebut menentang kekuasaan Orde Baru yang baru saja melakukan konsolidasi kekuasaannya menjelang Pemilu 5 Juli 1971.

Dan sejak saat itu Golput pun menjadi simbol perlawanan terhadap sistem politik yang tidak berpihak pada rakyat.

Gerakan Golput selalu menyeruak di setiap pemilu, tak terkecuali dalam Pemilu 2019 yang akan digelar 17 April nanti. Tak besar, namun warnanya cukup menarik untuk menjadi pembicaraan.

Pertanyaannya, relevankah Golput di era kebebasan seperti sekarang? Golput selalu dinamis dan mengikuti perkembangan zaman.

Lalu mengapa saat ini Golput kembali mencuat? Selain masyarakat yang jenuh dengan perdebatan panas kubu pendukung Jokowi dan Prabowo, kelompok Golput yang terorganisir (jika dapat dikatakan demikian) beranggapan kedua pasangan capres dan cawapres tidak layak dipilih karena persoalan oligarki politik.


Komentar Pembaca
Heboh Pria Berpistol Di Jakarta Pusat

Heboh Pria Berpistol Di Jakarta Pusat

SABTU, 15 JUNI 2019 , 17:00:00

Harta Jokowi Bertambah 13 Miliar Dalam 13 Hari

Harta Jokowi Bertambah 13 Miliar Dalam 13 Hari

JUM'AT, 14 JUNI 2019 , 21:00:00

Pesan Danyon Brimob H-1 Jaga MK

Pesan Danyon Brimob H-1 Jaga MK

KAMIS, 13 JUNI 2019 , 21:00:00

The ads will close in 10 Seconds